Di saat Allah mengobral pahala di bulan ramadhan bagi umat yang mau menjalankan rutinitas ibadah, namun beberapa dari kita lebih tergoda dengan obral diskon yang diterapkan mall-mall. Puncak keramaian mall biasanya terjadi 10 hari sebelum lebaran.

Jujur, kebanyakan dari kita lebih sibuk dengan memilih baju / peralatan sholat / aksesoris, dll dari pada menjalankan sholat magrib atau tarawih, tapi ada juga yang menyempatkan sholat magrib ke mushala di mall atau sekitarnya (alhamdulillah…masih mengingat sholat), kalau tarawih bisa jadi ada yang lalai tidak dilakukan, sebagian lain masih menyempatkan tarawih dilakukan dirumah.

Bukan hanya terjadi di mall, di pasar tradisional pun keramaian sangat meningkat tajam, mulai belanja kebutuhan pokok untuk hidangan lebaran, parcel sampai belanja baju untuk menyambut lebaran,

Bagaimana dengan Masjid? biasanya makin sepi dan benar-benar sepi. Jamaah yang ikut tarawih makin maju barisannya, maksudnya shaftnya makin berkurang. Itulah fenomena dan history dari tahun ke tahun menjelang akhir-akhir ramadhan, antara shalat tarawih ke masjid vs shopping ke mall.

Pergi ke mall bukanlah suatu larangan, apalagi untuk mempersiapkan lebaran. Tetapi seharusnya hal itu bisa ditahan, kita harus bisa mengontrol keinginan, tidak semua keinginan harus kita penuhi. Ingatkah uang masih bisa digunakan untuk hal lain yang juga tidak kalah pentingnya, seperti untuk membayar zakat. Jangan sampai uang habis untuk belanja, tetapi untuk membayar zakat tidak ada..na’udzubillahi min dzaalik….

Kalau kita kaji lebih jauh lagi, 10 hari akhir Ramadhan merupakan hari-hari istimewa, pada waktu ini lah diturunkannya Lailatul Qodar (Malam Kemuliaan), malam yang kebaikannya seperti 1000 bulan, bayangkan, obral Allah pada umat-Nya luar biasa.

Begitu istimewanya akhir Ramadhan ini hingga Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan perlakuan istimewa dengan semakin memperbanyak amalan ibadah, menghidupkan malam-malamnya dengan shalat malam dan membangunkan istri-istrinya untuk ikut menghidupkan malam dengan shalat dan dzikir.

“Adalah Rasulullah SAW jika telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: ia berkata: “Rasulullah SAW membangunkan keluarganya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Turmudzi)

Selain itu karena begitu istimewanya 10 hari ketiga Ramadhan Rasullullah SAW melakukan itikaf pada 10 malam-malam ini. Beliau  memutuskan untuk menghentikan segala aktivitas duniawinya untuk kemudian berkonsentrasi mengejar ibadah sebanyak-banyaknya.

“Nabi SAW melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal. Kemudian, istri-istrinya yang melakukan iktikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari-Muslim)

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberi kita kemampuan untuk bisa melakukan amalan-amalan yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mengisi sepuluh hari yang terakhir di bulan suci ini.

Wallohu A`alamu Bish-Showaab….

Iklan