Bercengkrama, bercanda dan bersandau gurau merupakan sesuatu yang sangat mengasyikan, apalagi dengan keluarga. Sepertinya rasa penat seharian bekerja bisa terobati dengan bercengkrama, bercandau maupun bersendau gurau dengan keluarga atau orang-orang terdekat yang kita sayangi. Selain dapat menumbuhkan hubungan yang lebih harmonis, kegiatan ini sepertinya juga bisa dijadikan budaya yang positif saat kita berkumpul dengan keluarga, kerabat maupun sahabat.

Lain ceritanya, jika kegiatan ini dilakukan saat ada ibadah sholat atau pengajian sedang berlangsung. Selain mengganggu juga kurang etis dan tidak selayaknya kita lakukan.

Namun beda, jika istilah tadi digunakan sebagai suatu ungkapan yang lebih positif untuk sesuatu yang positif juga. Misalnya ” kita bercengkrama dengan Alloh di sepertiga malam melalui sholat tahajjud dan tilawah Al Qur’an “.

Mungkin kita pernah melihat beberapa orang atau mungkin kita sendiri pernah melakukannya, dimana saat bertemu teman/sahabat di dalam masjid kita langsung bercengkrama dengan asyiknya, padahal saat itu adzan sedang berkumandang, atau kita masih asyik bercengkrama sementara  banyak orang-orang yang berada di dalam masjid sedang melakukan ibadah sholat atau tilawah Al Qur’an.

Orang yang sedang sholat berarti sedang bermunajat kepada Rabbnya, mengingat dengan menyebut-Nya, berdoa, mengagungkan dan memuji kebesaran-Nya. Maka selayaknya seorang muslim tidak mengganggu kekhusyu’an saudaranya yang sedang bermunajat tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang beri’tikaf telah bersabda, artinya,
“Ketahuilah bahwa setiap dari kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah sebagian dari kalian mengganggu yang lainnya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan al-Albani).

Maka tidak diragukan lagi bahwa mengganggu sesama muslim di dalam masjid dan membuat keributan di sekitar orang yang sedang shalat atau sedang berdzikir adalah perbuatan yang dilarang. Perbuatan tersebut termasuk kemungkaran yang besar, karena akan menumbuhkan sikap meremehkan kemuliaan masjid dan orang-orang yang sedang beribadah di dalamnya.

Ada juga mungkin diantara kita, ketika iqamah telah dikumandangkan tidak segera menyelesaikan pembicaraan namun tetap melanjutkannya sehingga terlambat bertakbiratul ihram dan membaca al-Fatihah bersama imam. Ketika imam sudah mendekati rukuk barulah mereka menuju shaf untuk menyusul shalat. Sikap seperti ini selain bentuk lain dari meremehkan, juga akan mengganggu mereka yang sedang sholat. Jika orang yang sedang shalat sunnah diperintahkan untuk membatal kannya ketika sudah iqamah (jika diperkirakan ketinggalan takbiratul ihram,red) maka bagaimana lagi hanya sekedar mengobrol?

Semoga kita bisa menempatkan diri sebagai hamba Alloh yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya…Aamiin

 

 

Iklan