muhasabah

Khusyu’ dalam shalat adalah sebuah ketundukan hati dalam dzikir dan konsentrasi hati untuk taat, maka ia menentukan nata’ij (hasil-hasil) di luar shalat. Olerh karena itulah Allah memberi jaminan kebahagiaan bagi mu’min yang khusyu’ dalam shalatnya.

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu’” (Al-Mu’minun:1-3).

Sebaliknya, orang yang melaksanakan shalat sekedar untuk menanggalkan kewajiban dari dirinya dan tidak memperhatikan kualitas shalatnya, apalagi waktunya, maka Allah dan Rasul-Nya mengecam pelaksanaan shalat yang semacam itu. Allah berfirman,

“Maka celakalah orang-orang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Al-Maun: 4-5)

Ibnu Katsir mengatakan: khusyu’ adalah tidak bergerak, tenang, penuh tawadu’ karena disebabkan takut kepada Allah dan perasaan merasa diawasi Allah. Khusyu’ adalah sadarnya hati seakan berdiri di depan Allah dengan penuh penghormatan, takut, cinta dan pengabdian. Tempat khusyu’ adalah di dalam hati dan membekas ke seluruh tubuh manusia. Kalau hati sudah tidak khusyu’ maka seluruh anggota tubuh tidak lagi beribadah secara serius karena hati ibarat komandonya dan anggota badan adalah tentaranya. Khusyu’ juga menjadi bukti keikhlasan.  Karena hanya mereka yang beribadah secara ikhlas karena Allah, bukan karena siapa-siapa tapi hanya konsentrasi kepada Allah semata, maka shalatnya akan khusyu’ dan sempurna.

Dalam hal kualitas shalat, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengklasifikasi orang yang shalat kedalam lima tingkatan shalat:

  1. Mu’aqqab

Mu’aqab artinya disiksa.

Tingkatan orang yang zhalim kepada dirinya dan teledor.  Dalam al-Quran jelas ada informasi bahwa kecelakaan bagi orang yang suka shalat, yaitu yang lalai dan riya (Q.S. al-Ma’un [107]: 4-6). Kriteria mushalli yang mu’aqqab yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim adalah orang yang mengabaikan aturan-aturan seputar shalat dari mulai waktu shalat, wudlu, sampai rukun-rukun shalat. Shalatnya hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban (formalitas). Orang seperti ini cenderung malas menjalankan ibadah shalat.

2. Muhasab

Muhasab berarti dihisab. Maksudnya adalah shalatnya diperhitungkan oleh Allah. Orang ini mampu menjaga waktu shalat, wudlu, syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, tetapi masih terbatas pada aspek zhahiriyahnya saja. Sedangkan aspek ruhiyah (kekhusyuan) kurang diperhatikan sehingga ketika shalat dijalankan, pikirannya dipenuhi oleh lamunan-lamunan tak berarti. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya. Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.

3. Mukaffar ‘Anhu

Tingkatan ketiga dalam kualitas shalat menurut Ibnul Qayyim adalah mukaaffar ‘anhu yang artinya diampuni (dihapus) dosa dan kesalahan. Yang menempati tingkatan ini adalah mereka yang mampu menjaga shalat dan segala ruang lingkupnya, kemudian ia bersungguh-sungguh untuk  melawan intervensi syetan. Ia berusaha menghalau lamunan dan pikiran yang terlintas. Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun-rukunnya. Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dalam dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya agar jangan sampai berhasil mencuri shalatnya. Maka, dia sedang berada di dalam shalat, sekaligus jihad.

4. Mutsabun

Tingkatan mutsabun atau yang diberi pahala memiliki ciri-ciri seperti tingkatan Mukaffar ‘Anhu. Lebihnya adalah ia benar-benar iqamah dalam mendirikan shalat. Orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikitpun darinya. Ia hanyut dan tenggelam dalam shalat dan penghambaan kepada Allah swt.

5. Muqarrab min Rabbihi

Yang terakhir adalah tingkatan yang paling tinggi. Mereka yang menempati tingkatan ini adalah orang yang ketika shalat, hatinya khusu langsung tertuju kepada Allah merasa tentram ketika Shalat. Ia benar-benar merasakan kehadiran Allah sehingga ia merasa melihat Allah (IHSAN). Tingkatan ini adalah Muqarrab min Rabbihi (didekatkan dari Allah).

Orang yang berada di tingkatan ini bukan hanya mendapat pahala dan ampunan tetapi ia pun dekat dengan Allah karena shalat ia jadikan sebagai penyejuk mata dan penentram jiwa. Barangsiapa yang tenteram hatinya dengan shalat di dunia, maka hatinya akan tentram dengan kedekatannya kepada Allah di akhirat dan akan tenteram pula hatinya di dunia. Barangsiapa yang hatinya merasa tentram dengan Allah ta’ala ,maka semua orang akan merasa tenteram dengannya. Dan barangsiapa yang hatinya tidak bisa merasa tentram dengan Allah ta’ala , maka jiwanya akan terpotong-potong karena penyesalan terhadap dunia. (Al-Wabil Ath-Thayyib, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hal 25-29).

Referensi :

  • Buku “Air Mata Penjara Wanita”, Penerbit Elba

Iklan